JAKARTA – PT Pertamina lewat Subholding Downstream PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tengah berpartisipasi dalam agenda Hilirisasi Nasional Fase II untuk Kilang Gasoline di Cilacap dan Dumai.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth Marchelino Verieza mengatakan pengembangan kedua kilang itu dirancang menjadi pilar utama dalam menekan ketergantungan impor BBM nasional secara signifikan serta memperkuat ketahanan stok BBM.
Mengusung konsep high conversion refinery, proyek tersebut bakal mengolah produk bernilai tinggi dengan target produksi tahunan Kilang Dumai mencakup 0,9 juta kiloliter (kl) gasoline, 86 ribu ton LPG, dan 124 ribu ton propylene, sementara Kilang Cilacap menghasilkan 1,1 juta kiloliter (kl) gasoline, 50 ribu ton LPG, dan 145 ribu ton propylene.
“Dengan kapasitas tersebut, proyek ini diharapkan mampu memberikan kontribusi besar dalam mengurangi total impor nasional,” ujar Roberth lewat siaran pers, Rabu (13/5).
Pengembangan Kilang Cilacap dan Dumai juga ditaksir bisa menghasilkan dampak ekonomi yang masif. Kehadiran peningkatan kapasitas kedua kilang itu ditaksir bisa menghemat devisa negara hingga sekitar Rp20 triliun per tahun.
“Selain itu, proyek ini akan menyerap hingga 6.000 tenaga kerja pada masa konstruksi dan operasi sehingga diharapkan memberikan stimulus positif bagi ekonomi lokal maupun nasional,” tambah dia.
Secara teknis, Kilang Gasoline Dumai ke depan bakal berkapasitas 30 ribu barel per hari (bph), sedangkan Kilang Gasoline Cilacap mencapai 32 ribu bph. Keduanya akan diintegrasikan dengan fasilitas eksisting untuk mengoptimalkan efisiensi operasional.
Selain aspek ekonomi, produk yang dihasilkan nantinya akan memenuhi standar bensin ramah lingkungan dengan kandungan sulfur dibawah 50 ppm, sejalan dengan komitmen transisi energi dan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30%.
Karena itu, Roberth menegaskan pengembangan Kilang Cilacap dan Dumai tidak hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang keberlanjutan.
“Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama terkait energi bersih, penyediaan lapangan kerja layak, pertumbuhan ekonomi, serta inovasi industri,” tegas Roberth.
Momentum pengembangan kilang gasoline di Cilacap dan Dumai ini dilakukan bersamaan dengan groundbreaking berbagai proyek strategis nasional lainnya di bawah koordinasi Danantara.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II April lalu yang dihadiri langsung oleh Presiden RI, dengan total nilai investasi mencapai Rp116 triliun.
Proyek-proyek tersebut tersebar dari Maluku hingga Papua, mulai dari pembangunan tangki penyimpanan BBM, pengolahan komoditas kelapa dan pala di Maluku Tengah, peningkatan kapasitas produksi baja karbon di Banten, hingga pengembangan substitusi LPG melalui proyek batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, serta optimalisasi Aspal Buton.
“Beragam proyek hilirisasi tersebut merupakan wujud nyata kebijakan pemerintah untuk menciptakan ekonomi berkeadilan melalui kemandirian energi dan industri dalam negeri. Pertamina Patra Niaga bangga menjadi bagian dari upaya besar ini,” tandas Roberth. **







