Apa Penyebab Klitih di Jogja?
Lalu persoalan kedua yang harus di petakan yakni terkait problem identitas yang di alami kalangan remaja. Oleh sebab itu perlu adanya keseriusan dari pemerintah soal klitih ini.
“Klitih itu kan oleh mereka (remaja) menjadi bentuk heroisme, tetapi kan itu keliru. Lalu problem ketiga mereka muncul karena adanya tekanan, hambatan dari kondisi sosial,” katanya.
Pada beberapa kali wawancara, pihak kepolisian selalu mengajak masyarakat turut berperan aktif untuk bersama-sama menjaga lingkungan masing-masing dari aksi Klitih.
Beberapa kelompok relawan dari masyarakat sipil kemudian hadir melabeli komunitasnya sebagai pemburu klitih. Sayangnya upaya itu belum mengakhiri kriminalitas jalanan.
Interpretasi ini di nilai Arie Sujito berlebihan jika dalam kasus ini pihak kepolisian telah gagal memenuhi upaya konkret menyelesaikan kasus klitih di Yogyakarta dan sekitarnya.
“Karena menurutku ini bukan hanya persoalan hukum saja, dan bukan tugas Polisi saja. Ini tugas pemerintah dan masyarakat. Kalau ini di serahkan polisi saja gak bisa. Polisi hanya menangani posisi darurat,” terang dia.
Sehingga, lanjut Arie, yang semestinya mencari akar permasalahan kenakalan remaja itu berada di kalangan pemerintah. Tugas pemerintah mencari akarnya.
“Kemudian masyarakat akan teredukasi. Sehingga persoalan Klitih bisa teratasi dari akarnya. Jadi semua itu tanggung jawab bersama menangani masalah ini,” tegas Dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM itu.
Dia menambahkan, mengurai benang kusut kenakalan remaja di Yogyakarta perlu adanya pendekatan kombinasi. Baik itu tingkat keluarga, tenaga pendidik, tokoh agama dan lainnya.
“Negara perlu memberi ruang anak muda dalam musik, olahraga, teknologi dan macam-macam. Kemudian problem selain ruang tadi juga problem masyarakat. Jangan beri stigma kepada mereka, tapi cari akarnya,” ungkapnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya








