PEKANBARU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD) Provinsi Riau mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang tahun 2026 telah mencapai 18.582,90 hektare.
Angka ini merupakan akumulasi kejadian di seluruh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Riau sejak awal tahun, dengan sebaran titik api yang masih terus dipantau hingga saat ini.
Kepala BPBD Riau, M Edy Afrizal, menjelaskan total titik panas tercatat mencapai 12.677 titik, dengan 618 di antaranya teridentifikasi sebagai titik api aktif, serta total lahan terbakar mencapai 18.582,90 hektare.
“Untuk luasan terbesar berada di Kabupaten Bengkalis yakni 8.454,40 Ha, lalu Pelalawan 6.640,99 Ha, dan Indragiri Hilir 1.034,02 Ha,” katanya di Pekanbaru, Kamis (3/9/2026) dikutip dari Antara. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa sebaran kebakaran tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi merata di 12 kabupaten/kota di Riau.
Bagaimana sebaran wilayah terdampak karhutla di Riau?
Selain tiga wilayah dengan luasan terbesar, sejumlah daerah lain juga tercatat mengalami kebakaran dengan skala berbeda.
Berikut rincian sebaran luas karhutla di Riau:
Bengkalis: 8.454,40 hektare
Pelalawan: 6.640,99 hektare
Indragiri Hilir: 1.034,02 hektare
Indragiri Hulu: 605,02 hektare
Dumai: 556,01 hektare
Rokan Hilir: 452,53 hektare
Siak: 373,06 hektare Kepulauan
Meranti: 217,45 hektare
Kampar: 141,66 hektare
Pekanbaru: 103,33 hektare
Kuantan Singingi: 69,87 hektare
Rokan Hulu: 33,96 hektare
Meski akumulasi kebakaran cukup tinggi, BPBD Riau menyampaikan bahwa kondisi di lapangan mulai menunjukkan perbaikan.
“Untuk titik karhutla hanya tinggal di tiga daerah saja. Yakni Bengkalis, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Saat ini juga masih terus dilakukan pemadaman,” sebut M Edy Afrizal.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Riau adalah karakteristik lahan gambut yang mudah menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Kondisi ini membuat api dapat muncul kembali meskipun kebakaran di permukaan sudah berhasil dipadamkan. Karena itu, BPBD Riau menekankan pentingnya proses pendinginan (cooling down) secara menyeluruh di lokasi terdampak.
“Jadi kita tetap waspada karena upaya penanganan tentu memastikan seluruh sumber api benar-benar padam sehingga tidak menimbulkan kebakaran kembali. Begitu juga operasi modifikasi cuaca tetap kami lakukan setiap hari,” tukasnya.
Selain pemadaman darat, upaya lain seperti operasi modifikasi cuaca juga terus dilakukan untuk membantu mengurangi potensi munculnya titik api baru, terutama saat kondisi cuaca masih kering
Sumber: KOMPAS.com









