30 Hari di Everest, Ini Biaya Total untuk Dua Pendaki Indonesia

Minggu, 10 Juni 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fransiska Dimitri Inkiriwang (kiri) dan Mathilda Dwi Lestari (kanan). Dokumentasi: Tim WISSEMU

Jakarta – Anggota tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Universitas Parahyangan (WISSEMU), Fransiska Dimitri Inkiriwang, 24 tahun, dan Mathilda Dwi Lestari, 24 tahun, telah berhasil menuntaskan puncak terakhir dalam ekspedisi seven summit. Mereka berhasil mencapai puncak Everest alias puncak tertinggi dalam jajaran tujuh gunung tertinggi dunia di Everest pada 17 Mei lalu.
Dalam ekspedisinya, Fransiska dan Mathilda memilih jalur utara melalui Tibet untuk menggapai puncak Everest. Jalur yang tak sefamiliar Nepal itu dianggap lebih bersahabat.
Keduanya melakukan proses pendakian selama 30 hari, terhitung mulai masa aklimatisasi atau adaptasi fisiologis. Sebulan berada di Everest, kedua mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan itu mengaku mengeluarkan biaya yang tak sedikit.

“Kalau dihitung-hitung, (biaya pendakian) kami berdua habis Rp 2,4 miliar,” ujar Fransiska di kantor Tempo, Jalan Palmerah Barat 8, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Juni 2018.
Lebih dari 80 persennya dikeluarkan untuk mengurus biaya pendakian. Menurut Fransiska dan Mathilda, untuk mendaki sampai puncak Everest, perlu uang sebesar US$ 70 ribu atau sekitar Rp 973 juta bila dikonversi dengan kurs saat itu.
Anggaran itu sudah termasuk biaya pengurusan regulasi dan visa, membayar Sherpa atau pemandu pendakian, akomodasi selama berada di Everest, makan, dan hal-hal lain yang diperlukan dalam pendakian.
“Juga sudah termasuk tiket pesawat menuju Lhasa dari Kathmandu di Nepal,” ujar Mathilda.
Lhasa adalah gerbang yang mengantar mereka melalui jalur utara pendakian Everest di Tibet. Bila dihitung terpisah, tiket ke Lhasa dari Kathmandu mencapai US$ 300-400 ribu per orang atau sekitar Rp 4-5 juta.
Adapun biaya penerbangan dari Jakarta menuju Nepal berkisar Rp 10 juta untuk dua orang. Ditambah biaya kelebihan bagasi sebesar Rp 5 juta. “Karena beli tiketnya mepet, jadi kami dapat harga yang mahal,” ujarnya.
Sedangkan biaya perjalanan pulang dari Nepal ke Jakarta masing-masing Rp 3 juta lebih. Ditambah dengan biaya kelebihan bagasi dengan total berat mencapai 150 kilogram.
Selain untuk kebutuhan pendakian dan transportasi, keduanya menghabiskan puluhan juta untuk akomodasi selama di Kota Thamel, Nepal. “Kami sempat beristirahat di Thamel beberapa hari,” tutur Fransiska.
Untuk misi pendakian ini, mereka mendapat dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Multi Karya Asia Pasifik Raya, Universitas Katolik Parahyangan, dan Mahitala Unpar.
(sumber tempo.co) 

Berita Terkait

Syarat Masuk Malaysia 2022, Lihat Disini
Ada Syaratnya Turis Asing Masuk Bali Bebas Karantina
MotoGP Mandalika 2022 Terancam Batal, Ada Apa?
Ulah Kepala Desa Ngeblak, Pesawat Gagal Terbang
Pintu Masuk Sumbar Dijaga Ketat Selama Larangan Mudik
Aturan Pendakian di 7 Puncak Dunia: Feses Pun Harus Dibawa Turun
Adventure Indonesia di Bawah Malaysia, Ini Kata Pengamat Pariwisata

Berita Terkait

Selasa, 12 April 2022 - 08:58

Syarat Masuk Malaysia 2022, Lihat Disini

Selasa, 8 Maret 2022 - 08:05

Ada Syaratnya Turis Asing Masuk Bali Bebas Karantina

Senin, 17 Januari 2022 - 18:30

MotoGP Mandalika 2022 Terancam Batal, Ada Apa?

Jumat, 24 Desember 2021 - 08:28

Ulah Kepala Desa Ngeblak, Pesawat Gagal Terbang

Jumat, 16 April 2021 - 19:10

Pintu Masuk Sumbar Dijaga Ketat Selama Larangan Mudik

Berita Terbaru

Bengkalis

Polres Gagalkan Penyelundupan 8 Kg Sabu dan Ribuan Ekstasi

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:28

Kuansing

Polda Riau Menindak PETI, Sempat Diadang Warga Kuansing

Selasa, 28 Jul 2026 - 13:27